Aliran kata dari akal dan hati. Sebuah upaya menebar manfaat melalui jejak digital. Semoga menjadi علم ينتفع به .

7 Agustus 2008

Buah Tangan Isra' Mi'raj

27 Rajab Tahun 11 Kenabian

Malam itu, Muhammad mengalami perjalanan istimewa. Perjalanan yang mungkin secara rasional pantas dipertanyakan.

Kata "isra'" disebutkan oleh Allah dalam Quran (17 : 1) dengan bentuk kata kerja yang mengandung objek (asra), yang berarti "memberangkatkan". Maksudnya, Allah memberangkatkan beliau dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) dalam semalam. Sedangkan "mi'raj" --sedangkal pengetahuan saya-- tidak pernah dinyatakan Quran secara jelas dalam konteks peristiwa ini.

Dalam Quran (53 : 13-14) dikatakan bahwa Muhammad melihat Jibril dalam rupanya yang asli di sidratul muntaha (tempat tertinggi). Jarak tempuh manusia untuk naik ke sana adalah selama 50.000 tahun (70 : 3-4). Bayangkan, apakah Muhammad bisa melakukannya?

Bagi seorang muslim, hal ini tidak perlu dipertanyakan. Yang pantas dipertanyakan adalah: "Dalam rangka apakah beliau dinaikkan?" Dalam peristiwa ini, beliau mendapat perintah shalat 5 waktu. Sedemikian pentingnya perintah ini, Allah "memanggiil" beliau secara langsung untuk menghadap-Nya.

Itulah oleh-oleh yang dibawa beliau dari perjalanan "jauh"-nya. Sebuah buah tangan yang sering kita lupakan, atau bahkan tidak pernah ada dalam kehidupan kita.

Bandingkan dengan buah tangan yang kita bawa setelah kita menunaikan tugas ke luar negeri. Dengan wajah menengadah penuh bahagia, kita berharap putra-putri kita menerima oleh-oleh itu dengan mata terbelalak sambil "berjingkrak-jingkrak".

Sekarang... bayangkan secara terbalik. Bila mereka mengacuhkan pemberian kita, sedihkah kita? Tidakkah kita merasa kecut? Tidakkah kita menjadi gemas?

Apa jadinya dengan Rasulullah, bila kita men-cuek-kan apa yang dibawanya?
Tahukah Anda, menjelang wafatnya, beliau membisikkan sesuatu kepada Ali bin Abi Thalib. Ali berkata, "... kata beliau: umatku... umatku... shalat! shalat!". []

Tidak ada komentar: